expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Jumat, 03 Juni 2016

Obat alami tersiram air panas atau minyak goreng panas tanpa melepuh juga tidak berbekas



Saya sering mendengar teman ataupun orang lain bercerita bahwa mereka langsung mengoleskan odol gigi (pasta gigi) dan ada pula yang langsung mengguyur kulitnya dengan air dingin seketika terkena air panas ataupun minyak goreng panas. Namun pada kenyataannya hasil yang terlihat adalah kulit akan melepuh dan mengeluarkan cairan beberapa saat setelah treatment yang mereka gunakan. Hal ini juga dapat meninggalkan bekas permanen yakni warna atau struktur kulit menjadi belang karena tidak sama lagi dengan warna kulit yang sebelumnya.

Garam merupakan bumbu dapur yang sangat mudah ditemukan dan selalu tersedia dirumah. Bahan ini lah yang ampuh dijadikan obat pertolongan pertama dan yang terakhir ketika kulit terkena cairan panas tersebut diatas. Caranya hanya dengan mengunyah garam dapur kemudian disemburkan ke kulit yang terkena cairan panas. Namun penanganannya harus cepat yakni seketika kulit terkena cairan panas langsung disembur dengan garam sampai merata. Sebaiknya meratakannya hanya dengan semburan garam saja karena dikhawatirkan kulit masih terlalu lembek jika diratakan dengan jari-jari. rasanya akan panas dan perih selama  pengobatan. biarkan saja sampai garam mengering dan kulit sudah terasa adem. kulit tidak akan melepuh dan juga tidak meninggalkan bekas apapun.

sekali lagi, ketika kulit terkena cairan panas kita tidak boleh menunggu lama untuk menyemburkan garam karena jaringan kulit terus bereaksi rusak, jika tidak obat tidak akan bereaksi. jika kulit yang terkena panas agak lebar sebaiknya langsung mengunyah garam yang banyak sehingga bisa langsung meng”cover” keseluruhan kulit yang terkena tanpa harus menunggu kunyahan garam  yang ke-2, jadi kulit tidak terlalu lama menunggu. Tempat garam yang biasanya didapur juga memudahkan kita untuk dapat cepat menjangkaunya karena aktifitas yang berkaitan dengan air panas ataupun minyak goreng juga biasanya berlangsung didapur.

Treatment ini saya dapatkan dari pengalaman saya sendiri sewaktu masih berumur sekitar 8 tahun, tepatnya pada bulan puasa menjelang magrib ibu saya merebus air di wadah yang biasa kami gunakan, kami meyebutnya dandang. Ketika air mendidih ibu saya berada diruang depan dan meminta saya mengangkat air yang baru saja mendidih. Posisi kompor ada diatas meja kecil ditambah tingginya dandang menyamai tinggi bahu saya. Biasanya kami merebus air memenuhi dandang tersebut, jadi saya sudah hafal betul kekuatan tenaga yang harus saya siapkan untuk mengangkatnya. Namun pada saat itu saya sama sekali tidak menduga jika air didalam dandang hanya setengah karena mengejar waktu berbuka yang sudah dekat. Jadi saya menggunakan kekuatan penuh sehingga dandang langsung terangkat tinggi hingga semua airnya tumpah keseluruh tubuh saya, hanya wajah yang tidak terkena. Sontak saya kaget, teriak dan loncat-loncat menangis histeris. Ibu saya langsung berlari kearah saya, mengunyah garam sampai lumat atau butiran kecil (dulu kita pakai garam kasar) sambil melepas semua pakaian saya dengan cepat, kemudian menyemburkannya keseluruh tubuh saya. Setelah selesai saya disuruh berdiri beberapa jam lamanya tanpa mengenakan pakaian hingga garam bener-benar mengering. Saya tidak diperbolehkan duduk maupun berpakaian karena dikhawatirkan kulit masih lembek dan rentan lecet atau terluka jika kulit tersentuh. Selama pemulihan tersebut rasanya panas, perih dan gatal bercampur menjadi satu, namun saya tidak diperbolehkan menyentuh apalagi menggaruk kulit saya. Alhamdulillah keesokan harinya kulit saya bener-bener pulih  seperti sediakala, tanpa melepuh dan tanpa meninggalkan bekas apapun. Hingga saat ini jika terkena cipratan minyak goreng yang biasanya hanya mengenai sebagian kecil kulit, saya langsung taburkan garam halus dan alhamdulillah tidak melepuh ataupun berbekas.

Saya juga pernah mencoba menggunakan treatment ini ketika lengan adik saya terbakar tapi tidak ada luka yag terbuka, tepatnya sih lengan bajunya yang terbakar hingga panasnya mengenai kulit tangannya. Namun karena rasa panik dan rasa asin garam yang tak tertahankan membuat saya hanya mengunyah sedikit garam sehingga garam yang saya semburkan tidak maksimal dan mungkin tidak rata atau mungkin juga karena tindakan saya yang terlalu lelet alias lama. Pada saat itu umur saya sekitar 11 atau  12 tahun dan kebetulan ibu saya tidak ada dirumah sehingga treatment yang saya lakukan tidak berhasil. Pada akhirnya kulit lengan adik saya tetap melepuh, bernanah dan luka hingga dibawa kedokter desa. Namun bekas luka bakarnya permanen; tetap ada hingga saat ini. Namun saya juga tidak yakin pasti apakan garam bisa dijadikan obat untuk kulit yang terkena bakar.


Demikian sharing dari pengalaman saya, semoga bermanfaat. Thanks

Tidak ada komentar:

Posting Komentar