Saya sering mendengar teman ataupun orang lain bercerita
bahwa mereka langsung mengoleskan odol gigi (pasta gigi) dan ada pula yang langsung
mengguyur kulitnya dengan air dingin seketika terkena air panas ataupun
minyak goreng panas. Namun pada kenyataannya hasil yang terlihat adalah kulit
akan melepuh dan mengeluarkan cairan beberapa saat setelah treatment
yang mereka gunakan. Hal ini juga dapat meninggalkan bekas permanen yakni
warna atau struktur kulit menjadi belang karena tidak sama lagi dengan
warna kulit yang sebelumnya.
Garam merupakan bumbu dapur yang sangat mudah ditemukan dan selalu
tersedia dirumah. Bahan ini lah yang ampuh dijadikan obat
pertolongan pertama dan yang terakhir ketika kulit
terkena cairan panas tersebut diatas. Caranya hanya dengan mengunyah garam
dapur kemudian disemburkan ke kulit yang terkena cairan panas. Namun
penanganannya harus cepat yakni seketika kulit terkena cairan
panas langsung disembur dengan garam sampai merata. Sebaiknya meratakannya
hanya dengan semburan garam saja karena dikhawatirkan kulit
masih terlalu lembek jika diratakan dengan
jari-jari. rasanya akan panas dan perih selama pengobatan. biarkan saja
sampai garam mengering dan kulit sudah terasa adem. kulit tidak akan
melepuh dan juga tidak meninggalkan bekas apapun.
sekali lagi, ketika kulit terkena cairan panas kita
tidak boleh menunggu lama untuk menyemburkan garam karena
jaringan kulit terus bereaksi rusak, jika tidak obat tidak akan bereaksi.
jika kulit yang terkena panas agak lebar sebaiknya langsung mengunyah garam
yang banyak sehingga bisa langsung meng”cover” keseluruhan kulit yang terkena tanpa
harus menunggu kunyahan garam yang ke-2,
jadi kulit tidak terlalu lama menunggu. Tempat
garam yang biasanya didapur juga memudahkan kita untuk dapat
cepat menjangkaunya karena aktifitas yang berkaitan dengan air panas
ataupun minyak goreng juga biasanya berlangsung didapur.
Treatment ini saya dapatkan dari pengalaman saya sendiri sewaktu
masih berumur sekitar 8 tahun, tepatnya pada bulan puasa menjelang magrib ibu
saya merebus air di wadah yang biasa kami gunakan, kami meyebutnya dandang.
Ketika air mendidih ibu saya berada diruang depan dan meminta saya mengangkat
air yang baru saja mendidih. Posisi kompor ada diatas meja kecil ditambah
tingginya dandang menyamai tinggi bahu saya. Biasanya kami merebus air memenuhi
dandang tersebut, jadi saya sudah hafal betul kekuatan tenaga yang harus saya siapkan
untuk mengangkatnya. Namun pada saat itu saya sama sekali tidak menduga jika
air didalam dandang hanya setengah karena mengejar waktu berbuka yang sudah
dekat. Jadi saya menggunakan kekuatan penuh sehingga dandang langsung terangkat
tinggi hingga semua airnya tumpah keseluruh tubuh saya, hanya wajah yang tidak terkena.
Sontak saya kaget, teriak dan loncat-loncat menangis histeris. Ibu saya
langsung berlari kearah saya, mengunyah garam sampai lumat atau butiran kecil
(dulu kita pakai garam kasar) sambil melepas semua pakaian saya dengan cepat,
kemudian menyemburkannya keseluruh tubuh saya. Setelah selesai saya disuruh
berdiri beberapa jam lamanya tanpa mengenakan pakaian hingga garam bener-benar
mengering. Saya tidak diperbolehkan duduk maupun berpakaian karena dikhawatirkan
kulit masih lembek dan rentan lecet atau terluka jika kulit tersentuh. Selama
pemulihan tersebut rasanya panas, perih dan gatal bercampur menjadi satu, namun
saya tidak diperbolehkan menyentuh apalagi menggaruk kulit saya. Alhamdulillah
keesokan harinya kulit saya bener-bener pulih
seperti sediakala, tanpa melepuh dan tanpa meninggalkan bekas apapun. Hingga
saat ini jika terkena cipratan minyak goreng yang biasanya hanya mengenai
sebagian kecil kulit, saya langsung taburkan garam halus dan alhamdulillah
tidak melepuh ataupun berbekas.
Saya juga pernah mencoba menggunakan treatment ini ketika lengan adik
saya terbakar tapi tidak ada luka yag terbuka, tepatnya sih lengan bajunya yang
terbakar hingga panasnya mengenai kulit tangannya. Namun karena rasa panik dan
rasa asin garam yang tak tertahankan membuat saya hanya mengunyah sedikit garam
sehingga garam yang saya semburkan tidak maksimal dan mungkin tidak rata atau
mungkin juga karena tindakan saya yang terlalu lelet alias lama. Pada saat itu
umur saya sekitar 11 atau 12 tahun dan
kebetulan ibu saya tidak ada dirumah sehingga treatment yang saya lakukan tidak
berhasil. Pada akhirnya kulit lengan adik saya tetap melepuh, bernanah dan luka
hingga dibawa kedokter desa. Namun bekas luka bakarnya permanen; tetap ada
hingga saat ini. Namun saya juga tidak yakin pasti apakan garam bisa dijadikan obat
untuk kulit yang terkena bakar.
Demikian sharing dari pengalaman saya, semoga bermanfaat. Thanks

Tidak ada komentar:
Posting Komentar